(Berita Daerah - Bali) Dua kali
pelaksanaan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Gianyar dan Buleleng,
Bali berlangsung secara damai, aman, lancar dan sukses dalam
mengantarkan kepemimpinan baru di kedua daerah tersebut.
Kesuksesan
Pilkada pada dua kabupaten yang baru saja digelar dengan harapan dapat
ditularkan kembali pada Pilkada tingkat provinsi Bali yang akan digelar
pada 15 Mei 2013.
Dalam menularkan
kesuksesan Pilkada tingkat kabupaten ke Pilkada tingkat Provinsi Bali
yang wilayahnya lebih luas akan mampu menjadikan Bali sebagai barometer
penyelenggaraan Pemilu kepala daerah terbaik di tanah air, harap
Nasrullah, anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada pembukaan rapat
Koordinasi Pengawasan Pilkada Bali.
Harapannya
itu dengan alasan, masyarakat Bali mewarisi seni budaya dan adat
istiadat yang sangat kental, sehingga memberikan dampak positif dalam
menyukseskan perhelatan demokrasi itu berjalan damai.
Hal
itu juga didasari atas kenyataan pelaksanaan "Bali Democracy Forum" di
Pulau Dewata dapat berjalan sukses, sehingga Bali layak ditempatkan
sebagai contoh penerapan demokrasi terbaik dalam pilkada.
Lebih-lebih
semua pihak di Bali termasuk dua paket yang akan bertarung dalam
Pilkada telah bertekad untuk mampu memberikan kesejukan dan kedamaian
kepada setiap masyarakat, termasuk wisatawan dalam menikmati liburan ke
Pulau Dewata.
Dua pasangan kandidat
Gubernur dan Wakil Gubernur Bali ditetapkan KPUD setempat sebagai
penyelenggara Pilkada yakni pasangan Anak Agung Ngurah Puspayoga dan
Dewa Sukrawan (PAS) yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) dengan nomor urut satu (1).
Pasangan
Made Mangku Pastika dan Ketut Sudikerta (PastiKerta) yang diusung
Partai Golkar, Partai Demokrat dan tujuh partai lainnya tergabung dalam
koalisi Bali Mandara dengan nomor urut dua (2).
Kedua
paket yang akan bertarung pada pertengahan Mei mendatang telah
menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) himbauan bersama Pemilu
Damai atau yang lebih dikenal dengan Piagam Damai.
Nasrullah
berharap dengan budaya yang dimiliki masyarakat di Pulau Dewata, mampu
melaksanakan Pilkada dengan damai dan sukses sekaligus menjadi contoh
penerapan politik yang santun, berbudaya, dan beretika.
Milik
bersama Pilkada Bali yang damai, sukses dan lancar yang menjadi dambaan
semua orang itu akan dapat terealisasi jika mampu membangun tanggung
jawab masyarakat bahwa pilkada sebagai milik bersama.
Oleh
sebab itu pelaksanaan Pilkada tidak bisa hanya dibebankan kepada
penyelenggara, khususnya KPUD, pemerintah, parpol dan pasangan calon,
namun melibatkan seluruh masyarakat Bali.
Permasalahan krusial untuk mewujudkan pemilu dan pilkada yang sukses terletak pada integritas penyelenggara pilkada.
"Kami
tidak akan tinggal diam kalau terjadi penyimpangan yang dilakukan
penyelenggara. Integritas menjadi harga mati," tegas Nasrullah.
Demikian pula KPU tidak boleh menggadaikan harga diri karena pancingan tertentu yang menyebabkan terjerumus pada hal tidak baik.
Oleh
sebab itu integritas dan independensi harus dipegang teguh KPU dan
Panwaslu harus bersikap adil, jangan pilih kasih serta tidak
diskriminatif.
Jika Panwaslu tetap
mematuhi aturan, yakin tidak akan ada persoalan meskipun banyak
kepentingan kalau tetap berpegang teguh pada aturan yang berlaku,
katanya.
Gubernur Bali Made Mangku
Pastika mengingatkan panitia pengawas pemilu (Panwaslu) untuk bertindak
tegas dan netral dalam tahapan Pilkada Bali.
Pilkada
langsung yang akan digelar pada 15 Mei 2013 menyimpan potensi konflik
yang tinggi karena melibatkan banyak pihak dan seluruh masyarakat.
Oleh
sebab itu kelompok-kelompok tertentu dikhawatirkan memanfaatkan peluang
tersebut untuk memperkeruh situasi dan kondisi sosial masyarakat.
"Saya
tidak menginginkan jika aksi anarkis yang terjadi di beberapa daerah di
Nusantara akibat kekecewaan pilkada sampai terjadi di Bali," ujar
Pastika yang juga calon Gubernur Bali.
Hal
itu menjadi tantangan berat dalam memelihara dan menjaga citra Bali
yang aman dan nyaman di dunia internasional. Tugas berat itu membutuhkan
komitmen, kerja keras, kewaspadaan dan upaya bersama para pemangku
kepentingan.
Ketua Parisada Hindu
Dharma Indonesia (PHDI) Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana juga meminta
kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung
dalam Pilkada tidak membuat gerakan-gerakan yang dapat memancing
ketersinggungan antarpendukung.
Untuk
itu para kandidat mampu menenangkan para pendukung dan parpol serta
mencegah massanya dari tindakan-tindakan yang dapat memicu konflik.
Pilkada sejatinya adalah pesta demokrasi untuk mencari pemimpin yang terbaik, sehingga tidak boleh dijadikan ajang permusuhan.
Pihaknya
yakin kedua pasangan kandidat itu baik. Jadi, siapapun nanti yang
menang seharusnya diterima dan yang kalah wajib legowo, ujar Sudiana
yang juga akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.

Posting Komentar